Senin, 05 November 2012

Surat Kecil untuk cinta


Mungkin harus ku lupakan semua rasa di hati ini. Yang bergejolak dan bertentangan dengan hati nurani. Mungkin,harus ku relakan semua tertinggal di masa laluku yang tak pernah bisa lagi kurasakan saat ini. Mungkin, aku memang tidak sempurna untukmu. Tapi aku memiliki cinta yang sempurna, hidup dan mimpi yang akan menyempurnakan  hidupmu. Mungkin, aku memanglah bukan pilihan hatimu. Tapi, berikanlah aku sedikit potongan hati kecilmu. Bukan sebagai rasa kasihan, tapi rasa tulus sebagai seseorang yang berharga 
 dalam hidupmu.

01 November 2011
Aku seolah berjalan di atas awan, ku kerahkan seluruh kecepatan untuk segera sampai menjemputmu yang mungkin memang sedang menunggu ku. Aku sahabatmu, yang akan setia di sampingmu kala kau membutuhkanku. Meski hanya sedikit harapan kecil di hatimu tersisa untukku. Bagiku… bersamamu adalah kisah lain dari sisi pedihnya hati yang dulu pernah aku alami. Dan mungkin kau telah melupakan semua itu perlahan seiring waktu berlalu. Tapi, maaf… aku tak bisa lagi menjemputmu, menemanimu, menjagamu dan menjadi pundak airmata kala itu terjatuh. Aku telah tiada mungkin nanti setelah kau kembali  dari australy. Aku hanya bisa menitip seribu salam pada kotak kaca. Disana ku sisipkan surat kecilku untukmu, juga untuk tuhan. Ku ingin kau membacanya satu persatu ketika kau mendapatkannya dari tangan orang tuaku.  Ku ingin kau membacanya  satu pesatu hingga kau mendapatkan pendamping hidupmu yang mampu menggantikan aku untuk tetap menjagamu. Aku mencintaimu lebih dari seorang sahabat atau kakak bagimu. Aku mencintaimu tulus dari dalam hatiku untuk menjadi pendampingmu, yang menjagamu dan mencintaimu hingga akhir hayatku.  Aku mencintaimu,  sangatlah mencintaimu. Aku terus melihatmu,  aku mendo’akan yang terbaik untukmu.

01 November 2012
Mentari pagi ini bersinar cerah, aku sampai di Indonesia setelah setahun lamanya menjalani masa study di Adelaide australy. Tak sabar hati bertemu dengan orang-orang yang ku sayangi. Papah… mamah… rara,  juga rian sahabat karibku sejak semasa SMP. Tak terhitung waktuku bersamanya hingga kami lulus SMA bersama. Aku memilih untuk kuliah  di Adelaide Australy dan  Dia lebih memilih kuliah di universitas  Jakarta dengan beasiswa yang dia dapatkannya sewaktu  SMA. Dia Rian, sahabatku yang sangat menjagaku. Dia Rian yang sangat menyayangiku dan aku pun menyayanginya.

“ Pratitha Arya putriani!!!.” Suara itu…….
“ Mamaaaaahhhhhh…..!!!!!.” aku berteriak sekeras mungkin sambil mencari-cari dari mana asal suara mamah  memanggilku.
Ku teteskan air mata kerinduan,  karena tak kunjung ku temukan dimana mamah berada. Aku terpaku disini. Mereka bilang ingin menjemputku setelah sampai di Indonesia. Tapi, mana….??? Rinduku tak terbendung lagi. Derai air mata terus mengalir. Namun seorang memeluk dari belakangku, dia memelukku erat seolah tak ingin melepaskanku. Ku memberontak. Dan itu mamah,  papah,  juga rara. Mereka tersenyum bahagia mellihatku selamat sampai di Indonesia. Negri tercinta yang tak pernah ku pijaki  setahun lamanya. Kerinduan yang tak terhingga hingga air mata pun tak dapat berhenti untuk terus mengalir.
“ kakak…!!.” Adik kecil manisku memeluk tubuh ini erat. Hingga tak mampu ku tahan untuk tidak mencubit pipinya yang cabi itu. Aku pun menggendongnya.
“ ade gemukkan yah, ternyata setelah kakak pergi  ke luar negri untuk kuliah. Gak berebutan makanan lagi yah sama kakak.” Ungkapku sambil terus meneteskan air mata bahagia karena rindu ini akhirnya terbalaskan.
“ iya kak.” Jawab singkat rara sambil mencium keningku. Karena aku terus mendekapnya dalam gendonganku.
“ kalau kakak ada disini, nanti ade berebutan makanan lagi sama kakak. Mau???.” Tanyaku sedikit meledeknya.
“ gak apa-apa deh. Asalkan kakak ada di sini, nemenin rara. Rara kesepian, kakak gak ada di sini. Nanti makanan rara buat kakak aja biar kakak gak balik lagi ke australy.” Ungkap rara, adik kecilku yang berusia enam tahun itu.  Air mata makin berlinang mendengar ucapannya. Begitu polosnya dia berkata seperti itu. Mamah dan papah tertawa kecil sambil menahan air mata di pelupuk matanya yang mulai menggenang. Aku turunkan rara dari pelukkanku.
“ pah, mah…!.” Aku memeluk kedua orang tuaku. Cukup lama tak kurasakan peluk hangat orang tua yang sedari  kecil merawatku dengan cinta kasihnya.
“ tha’,” mamah memanggilku dengan panggilan khasnya sejak dulu hingga sekarang. semua  memang tidak berubah.
“ kami semua kangen sama kamu sayang.” ungkap papah, sambil mengelus rambutku yang terurai panjang.
Kami pun pulang kerumah. Namun seolah ada yang terlupa, tapi aku bingung apa itu. Dan aku pun terlelap karena lelah yang kurasakan membuat tubuhku terasa sakit dan pegal-pegal.
02 November 2012
Baru kusadari apa yang semenjak kemarin terlupakan, baru ku sadari begitu pentingnya sampai aku sendiri melupakannya. Begitu berharganya sampai membuatku resah, begitu berarti di hidupku. dialah sahabatku, Rian Pramudiansyah ardistya.  Sahabat semasa SMP dulu yang selalu jadi pelindung kala ku di jahili oleh teman-temanku.
Dengan  segera ku membuka jendela di pagi hari,  agar cahayanya masuk ketiap sudut kamar yang setahun lamanya tak pernah aku singgahi dan aku tiduri. Masih seperti dulu, sama seperti kala aku meninggalkannya untuk pergi study. Aku langsung bergegas mandi dan berpakaian rapi. Ingin hati menyapa dan memberi kejutan kepada sahabat atas kepulanganku ke Indonesia.
“ pagi, , pah mah, rara.” Sapaku pada mereka kala bertemu di maja makan.
“ tidurnya nyenyak ya ka.” Tanya rara.
“ iya sayang, kakak lelah banget. Badan serasa sakit dan pegal-pegal.” Ungkapkku rada mengeluh.
“ mau kerumah sakit tha’,…?.” Tanya mamah.
“ gak ahk mah, Cuma sakit gini doang.nanti  juga hilang sendiri.” Ungkapku sambil mengunyah roti rasa selai stroberi kesukaanku.
  rapih banget, mau kemana kamu tha’,…?.” Tanya papah, sambil menyeruput kopi kemudian kembali membaca Koran pagi.
“ mau kerumah rian. Kangen sama dia. Sekalian mau kasih kejutan atas kepulanganku.” Ungkapku begitu bahagia.
“ rian…???.” Ungkap mereka semua  terkejut.
 Mencoba meyakinkan mereka aku mengangguk sambil tersenyum.
“ kakak, kak rian sudah gak ada.” Ungkap rara.
“ maksud kamu apa sih, masih anak kecil gak tau apa-apa. Mending kamu abisin sarapannya terus berangkat k sekolah yuk. Kakak antar.” Ungkapku, tak  mempercayai perkataan rara meski wajah polosnya berusaha meyakinkan aku.
“ tha’, Rian memang sudah meninggal.” Ungkap mamah, sambil mengusap-usap pundakku.
“ mah, jangan  bercanda deh.” Ungkapku sambil tertawa-tawa. Meski sebenarnya hati bimbang dan kecewa. Mengapa? Mereka berkata demikian,padahal aku yakin Rian masih hidup dan menungguku. Menunggu, kami bermain kembali di taman, bersepeda dan jalan bersama.
“ benar apa kata mamahmu tha’,.” Ujar papa membenarkan perkataan mamah.
“ gak mungkin pah, rian tega ninggalin aku sendiri. Dia janji mau menjaga aku sampai aku temukan pendamping hidupku. Gak mungkin rian mengingkari  janjinya. Gak mungkin.” Aku terisak menangis, kemudian pergi kerumahnya mengendarai mobil yang setahun lamanya tak pernah aku kendarai lagi.
Sesampainya di rumah rian. Ku lihat tante irna, mamah rian sedang menyirami bunga kesayangannya. Aku parkirkan mobil, dan turun mengahampirinya.
“ tante.” Panggilku. Tante irna menoleh dan tersenyum bahagia.
“ Titha, kamu udah pulang ke Indo…  senang tante bisa melihatmu baik-baik saja.” Ungkap tante irna, sambil memelukku erat, kemudian mempersilahkan aku untuk masuk dan duduk di ruang tamu. Ruangan dimana dulu aku sering belajar bareng dan bercanda bersama Rian.
Tante membawakan teh hangat dan meletakkannya diatas meja yang berhadapan denganku. Tante pun duduk di sampingku. Sambil tersenyum bahagia.
“ tante,” ujarku.
“ ya tha’.” Jawabnya.
“ rian mana?.” Tanyaku sambil mencari-cari.
“ tha’, jujur  tante gak mau mengingat semua ini. Tapi, tante gak bisa menutupinya dari kamu. Kamu sahabatnya, dan rian juga sangat  menyayangi kamu.” Ungkap tante irna.
Aku semakin bingung dengan keadaan ini.
“ rian mana tante.” Ujarku bertanya seolah tak kuasa menahan rasa penasaran dan sesak yang menyiksa batinku.
“ rian sudah meninggal, setahun yang lalu.” Ungkap tante, kemudian menangis.
“ setahun yang lalu.” Ku ingat terakhir kali aku bertemu dengannya.
 Wajah pucat pasi yang saat itu menggambarkan bahwa keadaanya memang sedang tidak baik. Namun, ia tetap bersemangat dan tersenyum. Sambil berkata. “jaga diri ya. Jangan pernah lupain gue.” Ungkapnya.
“ rian mengalami kecelakaan setelah mengantarmu ke bandara.” Ungkap tante sambil menahan sesak dan air matanya. Aku semakin tidak percaya akan semua ini, semakin sesak dan tak mampu membendung air mata yang kian memberontak untuk keluar dan mengalir deras.
“ dia koma’, karena kecelakaan itu. Dia kekurangan darah. Dan akhirnya rian tak tertolong.” Ungkap tante irna terus menangis.  Ku merangkulnya, memberikan pundakku untuk tempatnya meluapkan airmata dan sesak kehilangan anak yang sangat dia sayangi itu.
“ gak mungkin tan, rian pergi begitu saja. Dia  berjanji untuk terus menemani aku. Dia gak pernah ingkar janji . Gak pernah.” Ungkapku terisak sambil menghapus air mata tante irna yang terus menderas. 
Tetapi tante irna terus meyakinkanku agar percaya atas semua ucapannya, dan memang kenyataan yang sulit tuk ku hadapi. Aku menunduk, dan menangis. Air mata seolah tumpah semua ke pipi dan menetes-netes membasahi pakaianku.
Ku menoleh ke atas meja bundar di pojok ruangan, masih terpajang dengan jelas foto kita berdua. Sewaktu kelulusan SMA. Foto terakhir sebelum aku berangkat ke Adelaide Australy.
Wajahnya begitu ceria, seolah meninggalkan jejak perih dalam kenangan batin ini. Senyumannya sungguh membuat sesak dadaku, seolah menjerit dalam dinding kerongkonganku. Aku ingin melihatnya lagi Tuhan, aku ingin bersamanya lagi Tuhan. Aku ingin melihat senyumannya lagi. Aku tak ingin menyiakannya lagi Tuhan. Namun… semua terlambat. Dan semua takkan kembali terulang untuk kedua kalinya.
“ tante yang sabar ya, titha janji. Bakalan selalu ada setiap saat tante butuh. Kapanpun itu.” Ujarku pada tante irna yang terus saja menangis. Tak tega ku melihat seorang ibu yang menangis karena kehilangan anak semata wayangnya itu.
“ makasih ya tha’.” Tante irna mendekapku erat. Begitu jelas menggambarkan kerinduan yang tak tertahankan kepada anak semata wayangnya itu.
“ aku kangen rian tante.” Ungkapku malah makin terisak. Berusaha tenang dengan keadaan agar tante irna berhenti menangis, malah aku yang semakin parah memecah suasana.
“ sabar ya tha’. Tante juga sama. Kangen banget sama rian. Berat rasanya melepas kepergian dia, namun… Tuhan lebih sayang sama rian dibandingkan tante. Tante menyesal dahulu selalu  sibuk dengan  karir dan tidak perdulikan dia. Tante sangat menyesal.” Ungkap tante irna.

Satu yang kudapat dari kenyataan ini adalah, jangan pernah sia-siakan orang yang ada di sampingmu. Karena sungguh mereka menyayangimu. Meski kau tak merasakannya atau mereka tunjukkan secara kasat mata. Do’a mereka meski kau tak dengar atau melihatnya, selalu sampai melalui Tuhan padamu.
Ku langkahkan kaki dari rumah rian, ketika tante irna telah tenang. Aku tak menyangka semua akan terjadi seperti ini. Padahal  banyak yang ing9n aku ceritakan pada rian atas apa yang aku alami di Adelaide australy.

03 November 2012
Pagi ini ntah mengapa rasanya tak ingin aku bangun. Ingin terus terlelap dan menutup mata. Kenyataan ini hampir buatku gila karena memikirkannya.
Tiba-tiba mamah mengetuk pintu kamar. Tok…tokk…tokk….
“ titha, kamu udah bangun nak?.” Tanya mamah seraya memanggilku senyap-senyap terdengar.
“ ya mah.” Jawabku.
“ ada tante irna tuh nyariin kamu.” Ungkap mamah.
Sontak ku beranjak dari kasur, dan bergegas mandi.  Ku rapihkan kamarku dan langsung menuju ruang tamu. Ku lihat tante irna dan mamah sedang berbincang-bincang asyik ditemani secangkir teh.
“tante.” Panggilku sambil menyunggingkan senyuman. Meski mata bengkak karena menangis semalaman.
“kamu cantik banget tha’, pagi ini wajahmu ceria.” Puji tante irna. Aku duduk di samping mamah.
“tante irna mau ngajak kamu pergi. Kmu mau kan sayang.” ungkap mamah padaku. Aku mengangguk kemudian pamitan pada mamah dan papah.
Aku pergi dengan  tante irna ke sebuah tempat. Seperti sebuah pemakaman.
“ tante?.” Seribu Tanya menghantui pikiranku.
“rian bilang, pingin di jenguk sama kamu.” Ungkap tante irna sambil tersenyum, tapi raut wajahnya menunjukkan bahwa dia benar-benar depresi.
“rian?.” Air mata ini menetes kembali, kala mengingatnya. 

Senyumannya, canda tawa dan raut wajahnya yang lucu. Aku tak mengerti mengapa secepat ini dia pergi meninggalkanku.
Sesampainya di depan makam rian, ku duduk di sampingnya sambil mengelus-ngelus papan nisannya. Aku ingin menangis, hanya aku tak ingin memberatkannya. Rasanya, ingin teriak dan mengadu semua yang aku lalui padanya. Namun…  aku hanya diam terpaku melihatnya tenang dalam timbunan tanah yang menguburnya.
“ rian.” Sapa tante irna sambil menaburkan bunga di atas makamnya.
Ingin ku menangis melihat tante irna seperti itu. Namun ku bendung dalam-dalam air mata ini agar tak mengalir.
“rian, mamah kangen.” Ungkap tante irna, sambil terus menaburkan bunga.
“rian.” Ucapanku tak mampu ku lanjutkan, karena air mata ini terus memberontak keluar.
“rian, ada titha.” Ungkap tante irna. Aku hanya melihatnya dengan tatapan kecewa dan marah.
“rian, mamah kangen. Mamah mau meluk kamu sayang. mamah mau bercanda lagi sama kamu. Mamah kangen kamu nemenin mamah.” Ungkap tante irna kemudian menangis.

Ku rangkul dia, ku tenangkan hatinya. Meski  hatiku sendiri meluap dan ingin meledak. Rasanya ingin menangis dan marah. Namun, hanya bisa ku gigit bibir ini agar tak menangis di depan tante irna yang sedang terpukul dan merindukan anaknya.
Ku teteskan air mata ini, dan ku tahan agar tak berderai. Ku rasakan sesak di dada ini begitu menyiksa batinku.
“udah tante.” Ungkapku. Tante irna beranjak dari rangkulanku.
“tante kangen tha’ sama rian.”ungkapnya sambil terus menangis.
Aku pergi meninggalkannya. Tak sanggup lagi ku rasakan sesak melihatnya seperti itu. Aku juga tante,aku sangat merindukan rian. Sangat,…
Aku duduk di bawah pohon bringin, menunggu tante menghampiriku. Kulihatnya tersenyumdari jauh, kemudian memelukku.
“pulang yuk.” Ajak tante irna sambil terus tersenyum menatap matahari.
“ tante, gak apa-apa kan?.” Tanyaku padanya sambil terus menatapnya.
Tante menoleh kepadaku,dan menciumkeningku.
“tante gak apa-apa kok tha.” Ungkap tante.
Wanita ini tegar,setelah cerai dengan suaminya. Dia kehilangan anaknya.hidupnya sendiri, dan kesepian.ku merasa iba padanya.
“tante.” Panggilku. Dia menoleh.
“aku sayang tante.”ungkapku. dia hanya tersenyum. Dan kami pulang kerumahku.
Sepanjang jalan, ku lihat tante irna terus diam memandang keluar jendela mobil. Aku mengendarainya sangat perlahan. Aku pun masih tak percaya mengapa semua seperti ini.
Seperti mimpi, namu nyatanya semua adalah kenyataan.
Tante menyodorkan kotak bening yang berisi gulungan kertas kecil yang di beri pita.
“dari rian.” Ungkap tante.
Aku hanya terdiam.
“ dan ini surat terakhirnya.” Tante memberikan semuanya padaku.

 -bersambung-

Rabu, 24 Oktober 2012

fotoku


fotoku






rangga 2


Rangga

kesepian ini seolah mengekangku untuk beranjak dari angan ku tentang kamu, sekilas ku bercerita tentang dirimu yang sangat aku sayangi. seolah-olah mencintaimu sudah menjadi kewajiban untukku.
" gue broken home rha" ujar rangga, dengan raut wajah di tekuk.
" serius??." tanyaku tak mempercayai ucapannya.
" iya, nyokap ternyata udah nikah lagi. gue kira semua baik-baik aja. tapi gua baru sadar. selama ini nyokap jarang pulang ke rumah karena dia udah cerai dengan bokap gue."
 ucapnya sedih. setitik air mata jatuh membasahi pipinya. tak tega rasanya, melihat senyumannya hilang seketika.
" mmm... sebelumnya gue mau minta maaf sama loe. sebenarnya gue udah tau kalo nyokap bokap loe udah pisah. hanya gue gak mau loe sedih. (rangga menatapku, mencari keseriusan dari mata ku) .....sekarang gue benar-benar nyesel, loe udah tau semua itu. seharusnya gue sebagai sahabat yang bilang terlebih dahulu sebelum akhirnya loe  tau kenyataan ini. harusnya gue bisa jadi orang yang loe percaya. tapi bukan maksud gue gitu. gue hanya gak mau loe sedih. dan semua sekarang sudah terlambat." ujarku sambil menunduk, dan diam seketika.
" semuanya udah terlambat untuk di perbaiki kan rha?." tanyanya padaku. aku menoleh, dan melihatnya mulai menyunggingkan senyumannya.
"gue juga udah gak bisa berbuat apa-apa. mereka berdua udah jauh lebih matang, dari segi pikiran ataupun cara menyikapi sesuatu. gue rasa itu jalan terbaik antara mereka berdua. meski gue tau.... bokap masih sayang banget sama nyokap gue." ujar rangga menadah ke langit. ku lihat tatapan sendu matanya, seolah menahan semua perih dalam hatinya, seorang diri.
" gak seharusnya loe simpan semua kepedihan itu sendirian. ada gue yang bakal setia bersama loe, senang ataupun sedih. kalo loe ngrasa sendirian, loe tekap dada loe. loe bisa rasain, kalo gue ada di hati loe buat nemenin loe. loe jangan sedih." ungkapku perlahan menangis.
" ehh cengeng!!! gue emang sedih. tapi,gak segitunya juga kali. bagi gue asal mereka berdua bahagia itu udah cukup buat gue." ungkapnya sambil menyandarkan kepalaku di bahunya.
"... asal mereka berdua bahagia, itu udah cukup buat gue." loe bisa bilang begitu. bohong sama perasaan loe sendiri. tap, loe gak bisa bohong sma gue. tatapan mata loe, menggambarkan bahwa loe kesepian, rangga. gue janji bakal selalu ada buat loe.
teduh tatapannya, serta nyaman sikapnya. seolah  membuktikan pada diri ini yang lemah. bahwa kau mampu berdiri, meski penopang hidup telah  goyah bahkan runtuh. 
***
seiring waktu berlalu kau goyah terhadap waktu yang terus menimpa kesendirianmu. ku sadari, waktu berjalan membuat kita menjaga jarak. ntah karena sikap atau dirimu yang sudah acuh terhadap persahabatan kita. meski ku hanya bisa melihatmu dari jauh.

cerpen2

Cerpen-cerpen
  1. Rangga 1
  2. Rangga 2
  3. Rangga 3
  4. Out of the destiny 1
  5. Out of the destiny 2
  6. Out of the destiny 3

rangga 1

Rangga  

Kelam juga tak bisa menggambarkan, bahwa kerinduan ini telah terkekang. gelap pun bukanlah alasan mengapa aku tetap diam tak beranjak dari duduk dimana aku meratapi kau yang tenang berisitrahat dalam tumpukkan tanah yang menimbun ragamu. hanya setangkai lili putih yang kurangkai bersama dengan sedap malam, agar warnanya menyatu serasi dan semerbak mewangi. jujur, ku rindu saat dimana kita tertawa bersama. melewati detik demi detik waktu yang tersisa dalam hidupmu. menyanyikan lagu, dimana kau ciptakan agaraku mampu tegar. dimana kau rangkai kata demi kata agar aku mampu meresapinya dengan hati, bahkan emosi. "i can be a stronger" itu yang terus teringat dalam benak ini. yeah, i can be a stronger than before. harapan yang terus kau ucap ketika pagi mengawali dengan cerahnya matahari. tak terasa hari berganti hari, kau tak di sampingku. ku hanya bisa mengingat senyuman pagi, kala kau membangunkan aku. semangatmu, membuat hariku secerah mentari yang terus bersinar terik untuk bumi. rangga, rangga, rangga... terimakasih untuk ulasan tiap lukisan yang kau poles di tiap lembar hidupku. bagaikan kanvas, aku polos dan diam. kau bagaikan cat berwarna yang tumpah dalam kanvasku,  melukis setiap kejadian yang pernah kita lewati. aku.. aku.. aku.. sayang kamu.

kini, yang hanya bisa ku ingat adalah, "i cant be a stronger than before". aku yakin, kau disana pun melihatku dengan senyuman yang tak ada habisnya yang kau sunggirkan di bibir manismu.

ingatkah kamu? saat kita bermain bersama. ketika itu aku masih duduk di bangku dasar, kau begitu polos dan ramah mengajakku bermain tanpa tau siapa aku. rangga... dimana kamu? sekarangaku sendiri, disini sepi rangga.tiada dirimu, tiada senyuman ku.

Tinggalkan Pesan